
Dalam prosedur injeksi beton, Anda umumnya akan menemukan prosedur dengan metode bertekanan rendah. Di samping itu, proses injeksinya sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari beberapa jenis material yang dapat menambal celah dan retakan pada struktur beton sebuah bangunan.
Dari berbagai material yang digunakan, epoxy nampaknya menjadi pilihan material yang sangat digemari. Tentu saja, hal tersebut dilandasi oleh alasan khusus. Dan pada penjelasan berikut ini, Anda bisa simak ulasan mengenai injeksi beton epoxy bertekanan rendah secara umum. Selamat membaca!
Cara Kerja Injeksi Beton Epoxy
Injeksi beton epoxy secara khusus diformulasikan untuk mengembalikan kekuatan struktur beton secara permanen, terutama pada bagian yang retak dengan cara merekatkan kembali permukaan beton yang memisah karena adanya retakan atau celah tersebut.
Karena karakteristik epoxy yang memiliki kekuatan ikat (bond strength) tinggi, material ini pun bisa menyatukan kembali bagian pada struktur beton yang retak, dan memulihkan kekuatan strukturnya. Apalagi, kekuatan ikat yang dimiliki epoxy bahkan lebih tinggi dibandingkan kekuatan ikat beton.
Lewat prosedur injeksi beton epoxy, risiko adanya pergeseran atau pergerakan beton karena adanya pemuaian dan penyusutan karena suhu atau temperatur pun dapat dihilangkan. Hasilnya adalah kekuatan dan stabilitas structural yang lebih baik.
Meski begitu, pengaplikasian injeksi beton epoxy ini paling ideal diaplikasikan pada struktur yang tidak banyak bergerak, atau yang umumnya tidak menanggung beban besar. Karena jika struktur beton tersebut sering bergerak atau memiliki tanggungan beban yang besar, injeksi beton epoxy jadi kurang efektif, yang disebabkan oleh hilangnya kekuatan epoxy sehingga struktur pun jadi rentan retak kembali.
Mengapa Memilih Injeksi Beton Bertekanan Rendah?
Pada dasarnya, salah satu kunci penting dari injeksi beton yang benar-benar efektif adalah dengan menginjekkan atau menyuntikkan cairan material yang digunakan pada tekanan rendah, yaitu berkisar antara 20 sampai 40 psi. Dan metode ini berlaku baik untuk prosedur injeksi beton epoxy maupun dengan material lain, seperti polyurethane dan semen.
Karena metode ini dilakukan dalam tekanan rendah, waktu yang dibutuhkan bagi pekerjaan injeksi beton dari proses injeksi sampai selesai pun akan membutuhkan kesabaran. Hanya saja, tekanan rendah yang diaplikasikan tersebut akan memberikan hasil akhir yang lebih baik dan efisien.
Salah satu alasannya adalah karena tekanan rendah memberikan waktu bagi Anda maupun tenaga profesional yang menggarap injeksi beton ini untuk mengawasi proses injeksi dan memastikan bahwa bagian yang retak telah benar-benar diisi dengan sempurna. Terlebih lagi, proses injeksi yang tidak sempurna atau tidak lengkap pada retakan adalah alasan paling umum mengapa prosedur injeksi beton yang dilakukan gagal.
Pada struktur beton dinding rumah, mengisi atau menambal retakan pada tekanan di atas 40 psi bisa jadi justru tidak efektif. Hal ini dikarenakan material injeksi beton yang mendapatkan tekanan tinggi pun akan mendapatkan tekanan lebih untuk melawan gravitasi, sehingga material tersebut malah hanya akan mengisi celah atau sela-sela pada retakan di bagian depan saja. Artinya, material injeksi beton tersebut tidak akan mencapai bagian belakang. Padahal, bagian belakang retakan cenderung lebih sempit dibandingkan bagian depan atau muka.
Meski demikian, proses injeksi bertekanan tinggi tetap dapat diaplikasikan, namun dalam situasi tertentu. Misalnya untuk memperbaiki retakan pada struktur tembok yang sangat tebal, atau di dalam kondisi di mana aliran air dalam jumlah besar harus dihentikan, seperti dalam kasus injeksi beton untuk perbaikan bendungan.